Hati perempuan…
Sedalam lautan, permukaan yang berbuih
Di selimuti awan tebal, pancarkan air tertahan
Senyum, luka, tak tahu kapan
Hanya empunya yang tahu
Menyelaminya agar tahu isinya
Tak semudah katanya
Hati perempuan…
Sedalam lautan, permukaan yang berbuih
Di selimuti awan tebal, pancarkan air tertahan
Senyum, luka, tak tahu kapan
Hanya empunya yang tahu
Menyelaminya agar tahu isinya
Tak semudah katanya
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.”Bolehkah saya masuk ?”, tanyanya. Tapi, Fatimah tidak mengizinkannya masuk. “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang itu sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang . “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah SWT dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di depan Allah?” Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka,para malaikat telah menanti ruhmu, semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” Kata Jibril. Tapi ternyata itu tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini ?” tanya Jibril. “Kabarkan padaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah SWT berfirman kepadaku” “Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.”Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu, Jibril?” tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal.” kata Jibril. Sebentar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dasyat nian maut ini, tumpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya, “Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu. “Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatii?” Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu, Kini, mampukah kita mencintai sepertinya ?Karena betapa cintanya Rasulullah kepada kita.