Mudik..mudik.. trek..dung…trek…dung…
Suatu budaya yang terjadi ketika puasa Ramadhan hampir berakhir dan menjelang 1 Syawal.
Antrian loket bis, kereta api, pesawat, kapal tak hentinya dikerumuni oleh orang-orang yang ngebet untuk bertemu dengan keluarga tercinta, walau harga tiket membuat orang harus merogoh saku-nya dalam-dalam.
Persiapan di sana-sini, oleh-oleh, baju baru, sepatu baru, tas baru, buku baru [lah .. kayak persiapan sekolah aje.. he..he..] dah dilakukan dengan mantap dan penuh kehati-hatian [jangan sampe oleh-oleh ketinggalan
].
Memang segala sesuatu harus dipersiapkan dengan teratur, terencana, dan mantap agar sesuatu itu dapat dilakukan dengan lebih optimal. Sungguh persiapan yang sangat melelahkan sekaligus menggembirakan.
Pindah tempat di bumi ini seperti ini sudah sangat membuat qt bahagia karena akan bertemu dengan yang dicintai.
Bagaimana kalau akan pulang ke kampung abadi yach… Hmmm.. pasti persiapan akan lebih dilakukan dengan sangat mantap dan luar biasa, karena pulang ke kampung abadi tentu ada dua kampung, yaitu kampung neraka [na'udzubillah] dan kampung syurga [Amin]. Seperti halnya klu mudik, tentu kendaraan dan rute yang dilewati pun bervariasi. Begitu pula setiap kampung abadi memiliki kendaraan dan rute yang berbeda pula. Tinggal qt yang memilih. Klu mau mudik ke kampung neraka bisa naik kendaraan syaithon [dari golongan jin dan manusia] dan melewati rute maksiat. Tapi klu mau ke kampung syurga, bisa naik kendaraan ibadah dan rute amal saleh dan berpetakan Qur’an dan Sunnah. Semua ada loketnya sendiri-sendiri [Rp 0,-], tinggal penumpangnya yang memilih.
Semoga qt termasuk penumpang kendaraan ibadah,rute amal saleh dan berpetakan Qur’an dan Sunnah, biar bisa ketemu Allah SWT. Amin.
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Q.S Al Baqarah : 256
Sering kali dalam hidup qt terbentur dengan pilihan-pilihan yang baik-baik, baik-buruk, buruk-baik, atau buruk-buruk. Yang pertama [baik-baik] juga tetap membutuhkan keputusan qt untuk memilih, yang kedua [baik-buruk] dan ketiga [buruk-baik] pada awalnya sudah jelas bagi qt harus memilih yang mana, tanpa ada suatu keraguan sedikitpun [tentu yang baik -lah yang dipilih], kalau yang terakhir [buruk-buruk] sudah seharusnya pada awalnya qt tidak perlu berpikir dua kali [bahkan setengah kali, apalagi seperempat kali-pun tidak perlu] mana yang harus dipilih, karena pada dasarnya pilihan-pilihan itu tidak patut dipilih. Tapi apakah hal itu benar-benar yang baik atau buruk bagi qt?

