Ketika Cinta Harus Memilih

Sering kali dalam hidup qt terbentur dengan pilihan-pilihan yang baik-baik, baik-buruk, buruk-baik, atau buruk-buruk. Yang pertama [baik-baik] juga tetap membutuhkan keputusan qt untuk memilih, yang kedua [baik-buruk] dan ketiga [buruk-baik] pada awalnya sudah jelas bagi qt harus memilih yang mana, tanpa ada suatu keraguan sedikitpun [tentu yang baik -lah yang dipilih], kalau yang terakhir [buruk-buruk] sudah seharusnya pada awalnya qt tidak perlu berpikir dua kali [bahkan setengah kali, apalagi seperempat kali-pun tidak perlu] mana yang harus dipilih, karena pada dasarnya pilihan-pilihan itu tidak patut dipilih. Tapi apakah hal itu benar-benar yang baik atau buruk bagi qt?

Terkadang yang sulit bagi qt adalah ketika ada unsur “baik” dalam pilihan-pilihan itu. Mana yang harus dipilih ?

Memilih berarti qt menaruh cinta dan harap terhadap dan dari pilihan itu. Dan ketika telah memilih, terkadang ternyata di kemudian hari baru disadari dan tersadari bahwa pilihan itu salah!!! Dan akhirnya harapan semula hanya meninggalkan kecewa dan penyesalan.

Lalu, harus bagaimana ?

Qt yang pada akhirnya harus memilih adalah hasil kerja keras mesin-mesin canggih ciptaan Allah SWT yang ada di dalam kepala kita. Hasil pemikiran yang merupakan salah satu potensi pada diri qt yang masih diberi kesempatan [baca : masih bernyawa], yang dalam prosesnya digunakanlah bahan-bahan berupa pengetahuan, kepercayaan, keyakinan, prasangka, emosi, nafsu dan hal-hal yang ada di serat-serat neuron di sana.

Namun, ketika keputusan memilih disandarkan, diselaraskan, disamakan dengan apa-apa yang diinginkan dan disukai oleh Allah SWT, tentu keputusan memilih tidaklah menjadikan pada pilihan yang salah, tetapi pada pilihan yang benar. Karena pilihan yang terbaik menurut manusia belum tentu yang terbaik menurut Allah SWT, begitu juga pilihan yang buruk menurut manusia belum tentu buruk menurut Allah SWT.

Ketika cinta harus memilih, maka tentu cinta akan memilih kepada yang maslahat [yang baik], dan mengharapkannya kepada Yang Maha Sempurna. Dan tentu cinta akan memilih pada Allah SWT, Dzat Yang Maha Sempurna. Keputusan memilih bukanlah berdasarkan prasangka belaka tetapi benar2 harus dilandasi pada yang Allah SWT sukai dan keputusan Allah SWT -lah yang terbaik untuk yang diciptakan-Nya [makhluk-Nya]. Karena Pencipta tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh makhluk-Nya.

Bukan pada keinginan, tapi kebutuhan. Dan kebutuhan setiap di antara qt hanya Allah SWT yang mengetahui. Memilih pada apa2 yang didasarkan pada yang disukai Allah SWT, tentu akan membawa qt kepada kebahagiaan sejati.

Cinta sejati adalah kecintaan melebihi cinta kepada diri sendiri, harta, dan jiwa, karena cinta sejati adalah milik Allah SWT.

Semoga qt menjadi hamba Allah SWT yang memiliki cinta sejati dan melakukan segala sesuatu tidak berdasarkan prasangka tetapi sesuai dengan apa yang Allah SWT sukai dan Rasulullah contohkan.

5 thoughts on “Ketika Cinta Harus Memilih

  1. waa teteh, tulisana di blog keren2 ung. Beda sama saiah mah nu sok ngasal jeung nyampah we kabisa teh. BTw, Lam kenal ka. Lagi blogwalking nih, ijin istirahat di tempat na kaka ini dulu bntar ya, hehe.. thanks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s