Tempoe doeloe

Kemarin, pada suatu masa, aku duduk-duduk di sofa berwarna cokelat bulukan *sering kejatuhan makanan dan kotoran2 hewan merayap di dinding* sambil memandang ke arah perangkat yang mengeluarkan gambar dan suara, yang memuat informasi dari seluruh penjuru dunia dengan berbagai tema warta. Di sana tampak seorang pria botak berkacamata berdiri di tengah-tengah keramaian, didampingi seorang pria lagi berkacamata dengan umur yang tampak jauh lebih muda dari pria botak tadi. Semua mata disekeliling pria itu memandang dengan antusias dan memasang telinga dengan mantap terfokus pada apa yang keluar dari bibir pria itu. Kata-kata yang bisa saja menggeliat di relung pemikiran dan menggoyahkan tabir sikap yang tak termotivasi. Pun aku, berpikir dan dalam sepersekian waktu bak kecepatan cahaya, aku sudah berada membaur dengan orang-orang tadi mengelilingi pria itu. Dan hebatnya sesekali kami bertepuk tangan sejenak setelah pria itu selesai berbicara dan memberikan komando kepada pria yang satunya untuk membimbing kelanjutan acara. Biarlah perjalanan kami itu berjalan dengan kaki-kakinya sendiri, tak usah kau hiraukan. Hanya saja di sini aku akan berbagi pengalamanku dalam sepersekian waktu tadi kepadamu.

“Sering lisan dan tangan ini memukul sesaudara dengan embel-embel khilaf tak sengaja. Dan tiba-tiba sang penyesalan berada di hadapan wajah lugu kita. Kemudian, dengan berat hati ataukah ringan hati kita mendatangi sesaudara tadi untuk mengulurkan tangan dan berkata manis sambil berucap ‘maaf’. Namun, mengapa sang penyesalan masih menjadi bayangan ? Ternyata selidik demi selidik, walaupun bibir berungkap maaf, namun sikap kita tidak menunjukkan orang yang telah minta maaf”

Sejurus kemudian, tiba-tiba aku kembali ke sofaku yang bulukan tadi. Aku teringat pada suatu pemikiranku yang menyatakan diri yang sabar. Namun, ternyata selama ini aku tidak menunjukkan kesabaran itu dalam sikapku, sehingga dalam suatu masa aku tak bisa lagi mengerti bagaimana cara tersenyum dan bagaimana cara untuk menjadi ramah. Tiba-tiba, aku tersenyum… dan otakku menyelidiki ke hati, dan dia menemukan apa rahasianya. Kini aku tahu caranya bagaimana tersenyum.

Ikhtisar : hati, kata, dan tingkah laku sepadan searah dan berkolaborasi dalam kebaikan agar memperoleh ketenangan.

2 thoughts on “Tempoe doeloe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s