Lihatlah ke Atas

Terkadang dalam hidup ini kita (baca : aku) merasa tidak seberuntung orang lain. Kita merasa tidak puas akan apa yang telah dimiliki (‘dititipkan oleh Allah SWT’) kita. Bahkan, ada keinginan-keinginan untuk dapat melebihi orang lain. Dan di long term memory kita sudah ditanami oleh (mungkin) orang tua, kakak, adik, teman, guru, dll, bahwa untuk mengatasinya adalah dengan melihat ke bawah. Artinya adalah bahwa ketika kita mengetahui ada di luar sana, orang-orang yang tidak seberuntung kita masih tetap tersenyum bahkan untuk sekedar menemukan sesuap nasi di onggokan sampah, yupz onggokan sampah yang mungkin kita enggan sekali melepaskan tangan kita dari hidung kita saat melewatinya.

Tapi, mengapa hasrat untuk ‘cemburu’ pada orang lain itu masih merah arangnya dan masih berkibar mesra di dalam tungku hati dan tiang benak kita (baca : aku) ? Hmm.. coba kita sedikit menggeserkan ungkapan ‘lihatlah ke bawah’ menjadi ‘lihatlah ke atas’. ‘Lihatlah ke atas’ bukan berarti kita melihat kemewahan dan pangkat yang sedang melambai-lambai kepada kita dari balik punggung seseorang yang sedang merasakan nikmat dunia itu. Bukan pula secara lahir kita melamun menatap ke awan, atas rumah, atas pohon, dll (^_^ hehehe…). Akan tetapi, yang dimaksud ‘melihat ke atas’ di sini adalah bahwa segala ‘kebesaran’,’kemewahan’,’kekuasaan’,’pujian’ adalah hanya dimiliki oleh Dzat yang Maha Esa, yaitu Allah SWT yang Maha Besar, Maha Kuasa. Ketika kita meyakini bahwa sesungguhnya puja-pujian itu hanya milik Allah SWT, dan kita berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, sungguh secara perlahan namun pasti ‘kecemburuan’ terhadap nikmat duniawi itu perlahan akan memudar (dan semoga hilang). Setiap orang yang yakin akan kekuasaan Allah SWT terhadapnya, maka setiap kejadian dijadikannya sebagai nikmat dari Allah SWT, sehingga dengan demikian hari demi hari, kita akan berusaha meningkatkan kualitas diri di hadapan Allah SWT (bukan dihadapan makhluk). Jika sudah demikian, hati akan menjadi tenang, akan lebih dapat bersimpati dan berempati terhadap orang lain dan lingkungan, sehingga menjadikan segala sesuatu yang dilakukannya tetap berada di koridor yang Allah SWT sukai. ‘Melihat ke atas’ telah melingkupi arti ‘melihat ke bawah’ selama ini. Meyakinkan diri bahwa Allah SWT lebih tahu siapa dan kebutuhan kita, melebihi diri kita sendiri. So, ‘Lihatlah ke atas’.

4 thoughts on “Lihatlah ke Atas

  1. Menurut saya, melihat ke atas adalah “cemburu” kenapa orang lebih saleh, lebih pandai mengaji, lebih pintar, dan sebagainya. Sehingga diharapkan menjadi motivasi untuk berlomba-lomba dalam kebajikan (Fastabiqul Khairat).

    Salam kenal ya..🙂

  2. untuk memaknai sesuatu, kita harus melihat sekitar

    sehingga, tak bisa dipaksakan untuk satu kondisi tertentu..

    -whd-

    :numpang ngelink yak:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s