Sewangi Bunga Ikhlas

Bertahun-tahun saya pikir, saya sudah memahami apa itu ikhlas. Secara teoritis, saya yakin, bahwa ikhlas bermakna “penyerahan”. Selanjutnya, seiring bertambahnya umur dan pengetahuan yang saya dapat dari berbagai kajian, saya memahami lagi, bahwa ikhlas artinya “penyerahan, yang tidak pasrah, dan diiringi ikhtiar”. Saya mencoba memahami itu dengan baik.

Saya memang sudah mengerti, tapi ternyata saya belum tahu bagaimana dan apa rasanya ikhlas. Saya baru menyadari ini, beberapa waktu belakangan, ketika saya menghadapi beberapa persoalan hidup yang tidak menyenangkan.

Sampai saya tahu bahwa selama ini pengertian ikhlas itu baru mendarat di level pikiran saya saja. Saya memang orang biasa, saya bukan bermaksud menggurui siapapun, saya bukan ahli ikhlas. Tapi disini saya ingin membagi pengalaman saya, pengalaman mencicipi rasanya ikhlas. Betapa tenangnya diri saya dan bersyukurnya saya, Allah masih beri saya kesempatan untuk mencicipi manisnya ikhlas.

Ikhlas, rasanya lezat sekali.. berkali-kali hanya rasa syukur yang terucap, bagaimanapun kondisi yang dihadapi, lapang maupun susah. Yang ada hanya keyakinan luar biasa akan kebesaran Allah SWT, bukan fikiran yang melayang-layang karena masalah yang dianggap besar.

Masalah yang sedang saya hadapi belakangan ini, mungkin bagi beberapa orang, hanyalah masalah yang terlihat “sepele”, namun masalah tersebut dengan kuantitas yang cukup banyak, cukup seperti jarum-jarum yang bergiliran menjahit di hati saya. Rasanya sakit. Berkali-kali saya mencoba mengerti dan memahami bahwa masalah tersebut adalah sebagian ujian dariNya. Namun, hati saya selalu menolak dan saya tetap merasa sedih. Ini salah satu indikasi, bahwa sebenarnya saya belum tahu bagaimana ikhlas dan apa rasanya. Indikasi lain, saya sulit menerima, bila orang lain berkata “Ikhlas Ven”. Malah yang ada hanyalah “pemberotakan” dari dalam diri saya, dan menambah rasa sedih saya.

Waktu terus berjalan, dan rasa sedih tetap menjadi teman saya saat itu. Yang ada hanya kebingungan, padahal saya harus terus beraktivitas dan berinteraksi dengan orang lain. Saya mencoba tersenyum, entahlah mereka tahu atau tidak perasaan saya saat itu. “Ketika saya jatuh ke suatu lubang, ternyata Allah sudah mempersiapkan tali-tali agar saya bisa kembali ke permukaan” ya itulah salah satu ungkapan dari teman saya kepada saya dan kemudian .. “tinggal kita mau melihat tali itu atau tidak”. Saat diungkapkan seperti itu, saya tidak langsung bisa “ikhlas”, masih saja berontak. Walau saya pikir saat itu, ada benarnya juga ungkapan itu. Hehe..

Kemudian saya sholat, dan mengaji.. ayat pertama kali yang saya baca adalah Al Baqarah 216 :

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Saya memang bukan ahli tafsir, tapi ayat ini begitu mengena pada diri saya. Perlahan, rasa sedih mulai muncul di hati ini, tapi jauh berbeda cita-rasanya, ya rasa sedih yang menyenangkan. Sedih yang menenteramkan. Saya yakin, perlahan-lahan Rabb mulai meruntuhkan dinding yang keras di hati saya. Perlahan-lahan saya tidak berontak, ketika teman saya terus membantu saya untuk bisa “ikhlas”. Perlahan saya bisa menemukan senyum saya yang sebenarnya. Tak hanya sampai disini, ketika saya yakin saya bisa menerima permasalahan itu dengan lapang dada, dan saya merasa saya sudah ikhlas. Ya, sampai level ini saya sudah belajar bagaimana ikhlas dan rasanya. Selanjutnya, saya didatangi masalah lain, dan saya bisa lebih tenang dalam menghadapinya dan ini tidak menimbulkan kesedihan seperti sebelumnya ketika saya belum bisa ikhlas. Saya rasa ini adalah level ujian, untuk menguji apakah ikhlas itu benar mengendap di hati saya. Untuk ujian ini, Alhamdulillah, saya bisa melewatinya dengan tenang, semoga ini indikasi saya lulus ujian keikhlasan. Dan semoga saya bisa lulus ujian keikhlasan di ujian-ujian berikutnya. Semoga Rabb meridhoi .. Amiiin

Bagi saya ikhlas :

Bukanlah ketika saya berpikir “betapa bodohnya saya larut dalam kesedihan yang tidak berarti”

Bukanlah ketika saya berpikir “betapa buang waktunya saya memikirikan kesedihan itu”

Bukanlah ketika saya berpikir “saya sudah lelah untuk sedih”

Tetapi

Ketika saya merasakan “perasaan saya begitu tenang dan senang”

Ketika saya merasakan “rasa syukur yang begitu mendalam kepadaNya, apapun kondisi saya”

Ketika saya merasakan “betapa banyaknya dosa saya”

Ketika saya merasakan “energi positif untuk berbuat yang bermanfaat yang lebih banyak untuk keluarga dan orang lain”

Ketika saya merasakan “ringannya pikiran saya”

Ketika saya merasakan “keyakinan bahwa Allah selalu ada untuk saya, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong”

Ketika saya merasakan “indahnya persaudaraan”

Dan ah saya rasa tidak akan cukup untuk dituliskan disini, benar-benar tak terlukiskan dengan sekedar kata.

Dan dari masalah hidup belakangan ini, Rabb berikan saya hadiah terbaik, yaitu persaudaraan. Selain lezat rasanya, ternyata ikhlas begitu wangi.. siapapun yang membawa rasa ikhlas, dia menebarkan wanginya ikhlas, sehingga saya bisa ikut mencium wanginya ikhlas. Ikhlas, lezat dan wangi.. cobalah.. insya’Allah hati kan menjadi tenang, mintalah pertolongan kepadaNya, Allah sebaik-baik Penolong..

Terima kasih Rabb..

NB : “mungkin ini adalah ujian keikhlasan level hmm entahlah, yang jelas semoga Rabb meluluskan saya di setiap ujian keikhlasan dalam pendidikan kehidupan ini. Amin”

3 thoughts on “Sewangi Bunga Ikhlas

  1. Sepertinya Sang Guru Renang sudah mulai merasa iri ketika melihat anak yang beberapa minggu lalu dia ajari untuk berenang, sudah bisa berenang dengan lincah dan cepatnya…bukan hanya di kolam renang seperti yang dia ajarkan….tapi bahkan sudah bisa dengan tangguhnya berenang di tengah laut yang tentunya lebih dalam dan lebih berombak…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s