Dia seorang hamba Allah yang mencintai-Nya sepenuh hati
Dia yang selalu mengobarkan api pengorbanan karena kecintaannya pada-Nya
Dia salah satu yang telah membuka hati ku untuk mengerti bagaimana nikmatnya bersabar
Dia salah satu yang mengajari aku bagaimana mengatur harapanku
Duhai Rabb, berikanlah kebaikan dunia akhirat kepadanya.. dan jauhkanlah ia dari segala fitnah..
Amin..
Pejuang
May 25, 2009 at 2:57 pm (Common)
Rasulullah SAW telah wafat ….
April 27, 2009 at 11:15 am (Common)
Tags: Common
Setiap pemilu diadakan di negara yang mengadakannya, pasti akan ada yang terganti dan yang mengganti, yaitu presiden dan wakil presidennya, bahkan perangkat-perangkat pemerintahannya. Setiap masa kekuasaan sudah selesai atau sudah tergeserkan, maka negara ini butuh pemimpin, misal presiden, tidak mungkin bangku kekuasaan itu kosong. Selalu saja ada yang mengganti, bisa dengan/bukan orang yang sama, dengan/bukan orang yang serupa. Apakah jika masih dalam perjalanan kekuasaannya pun, presiden tersebut meninggal, apakah bangku tersebut masih diharapkan diduduki oleh orang yang sama (yang telah meninggal tersebut) ataukah menunggu masa pemilu mendatang untuk mendapatkan penggantinya.
Presiden identik dengan kekuasaan dan pemimpin. Selain haknya untuk berkuasa, maka kewajibannya adalah untuk memakmurkan siapa saja yang dipimpinnya. Maka yang sebenarnya terjadi adalah tidak ada yang diganti, sekalipun masa kepresidenan telah selesai ataupun presiden tersebut meninggal, karena sebenarnya yang terjadi adalah fungsi kepresidenan yang diteruskan. Yupz, fungsinya sebagai pemimpin, tetap diteruskan, sekalipun presiden tersebut diganti orangnya atau meninggal dunia.
Dalam suatu masyarakat pemimpin (ulil amri) itu pasti ada.
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa 4: 59).
Sebagai orang awam, dari ayat ini jelaslah jika terjadi permasalahan, perbedaan pendapat (seperti yang sering terjadi di negara itu ^_^), maka yang harus dirujuk adalah hanya Al Qur’an dan Sunnahnya.
Sebagai yang dipimpin pun memiliki kewajiban untuk mematuhi pemimpin tersebut. Coba lirik hadits berikut.
“Anda wajib patuh dan setia pada pemimpin, baik dalam keadaan susah maupun senang, suka atau benci, dan biarpun merugikan kepentinganmu.” (H.R. Muslim).
Tetapi, pemimpin yang seperti apa yang harus dipatuhi. Coba lihat hadits berikut.
Laa thaa’ata fii ma’syiyati al Khaaliq (Tidak wajib taat pada makhluk yang menyuruh maksiat pada Allah swt.).” (H.R. Muslim)
Saya sebagai orang awam pernah punya suatu pengalaman dengan seseorang mengenai cara hidup dan terutama pola perjuangan Rasulullah SAW dalam menegakkan Dien Islam ini, yang tiba-tiba orang tersebut berkata “Rasulullullah kan sudah meninggal”. Yupz, sodara2, Rasulullah adalah manusia seperti kita, yang pasti mengalami fase kematian. Tapi, apakah dengan ketiadaan Rasululullah bersama kita, menjadikan perjuangan tersebut terhenti, menjadikan Qur’an dan Sunnah tidak diberlakukan lagi atau dicampur dengan hukum lain ??
Apakah seperti itu ?
Bukankah Al Quran merupakan satu-satunya pedoman hidup manusia sepanjang masa sampai dunia ini kiamat. Bagaimana dengan as Sunnah ? Adapun As Sunnah adalah interpretasi Al Qur’an itu sendiri.
Ketika Assaiyidah `Aisyah Radhiallahu’anha ditanya mengenai kelakuan, perangai dan perjalanan hidup Rasulullah SAW maka beliau menjawab: yang bermaksud: “kelakuan dan perjalanan hidup beliau [Rasulullah SAW] itu ialah Al-Quran” (Hadis riwayat Nasai)
So, walaupun Rasulullah SAW dan para sahabat telah meninggal, perjuangan harus tetap dilanjutkan (tentu dengan pola perjuangan yang telah dicontohkan Rasulullah SAW) …. Selamat berkiprah dalam dunia perjuangan ^_^
“kupu-kupu yang hinggap di kertas putih”
April 23, 2009 at 4:37 pm (Common)
seperti kertas putih
hendak dan ingin ditulis
dengan tinta kebaikan
keluguan terpancar dari sucinya
seperti kupu-kupu yang rendah hati
setiap hari terpancar cerianya
dengan kemegahan hatinya yang merendah
memberikan semburat pelangi dari sayapnya
bagaimana jika jadi kupu-kupu putih
masih tetap terpancar kemegahannya
dirasa hangatnya sinar
oleh yang menyentuh bayangannya setiap hari
seperti kertas putih
seperti kupu-kupu yang rendah hati
memancarkan keluguan
dan kemegahan tanpa hati yang tinggi
semoga tetap begitu …
mencari kebaikan setiap hari …
Lihatlah ke Atas
April 20, 2009 at 10:08 am (Common)
Terkadang dalam hidup ini kita (baca : aku) merasa tidak seberuntung orang lain. Kita merasa tidak puas akan apa yang telah dimiliki (’dititipkan oleh Allah SWT’) kita. Bahkan, ada keinginan-keinginan untuk dapat melebihi orang lain. Dan di long term memory kita sudah ditanami oleh (mungkin) orang tua, kakak, adik, teman, guru, dll, bahwa untuk mengatasinya adalah dengan melihat ke bawah. Artinya adalah bahwa ketika kita mengetahui ada di luar sana, orang-orang yang tidak seberuntung kita masih tetap tersenyum bahkan untuk sekedar menemukan sesuap nasi di onggokan sampah, yupz onggokan sampah yang mungkin kita enggan sekali melepaskan tangan kita dari hidung kita saat melewatinya.
Tapi, mengapa hasrat untuk ‘cemburu’ pada orang lain itu masih merah arangnya dan masih berkibar mesra di dalam tungku hati dan tiang benak kita (baca : aku) ? Hmm.. coba kita sedikit menggeserkan ungkapan ‘lihatlah ke bawah’ menjadi ‘lihatlah ke atas’. ‘Lihatlah ke atas’ bukan berarti kita melihat kemewahan dan pangkat yang sedang melambai-lambai kepada kita dari balik punggung seseorang yang sedang merasakan nikmat dunia itu. Bukan pula secara lahir kita melamun menatap ke awan, atas rumah, atas pohon, dll (^_^ hehehe…). Akan tetapi, yang dimaksud ‘melihat ke atas’ di sini adalah bahwa segala ‘kebesaran’,'kemewahan’,'kekuasaan’,'pujian’ adalah hanya dimiliki oleh Dzat yang Maha Esa, yaitu Allah SWT yang Maha Besar, Maha Kuasa. Ketika kita meyakini bahwa sesungguhnya puja-pujian itu hanya milik Allah SWT, dan kita berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, sungguh secara perlahan namun pasti ‘kecemburuan’ terhadap nikmat duniawi itu perlahan akan memudar (dan semoga hilang). Setiap orang yang yakin akan kekuasaan Allah SWT terhadapnya, maka setiap kejadian dijadikannya sebagai nikmat dari Allah SWT, sehingga dengan demikian hari demi hari, kita akan berusaha meningkatkan kualitas diri di hadapan Allah SWT (bukan dihadapan makhluk). Jika sudah demikian, hati akan menjadi tenang, akan lebih dapat bersimpati dan berempati terhadap orang lain dan lingkungan, sehingga menjadikan segala sesuatu yang dilakukannya tetap berada di koridor yang Allah SWT sukai. ‘Melihat ke atas’ telah melingkupi arti ‘melihat ke bawah’ selama ini. Meyakinkan diri bahwa Allah SWT lebih tahu siapa dan kebutuhan kita, melebihi diri kita sendiri. So, ‘Lihatlah ke atas’.
Salah satu lirik lagu
April 7, 2009 at 12:01 pm (1)
Tags: Common
Keimanan
Andai matahari di tangan kananku
takkan mampu mengubah yakinku
terpatri dan takkan terbeli dalam lubuk hati
Bilakah rembulan di tangan kiriku
takkan sanggup mengganti imanku
jiwa dan raga ini apapun adanya
Andaikan seribu siksaan
terus melambai-lambaikan derita yang mendalam
seujung rambut pun, aku takkan bimbang
jalan ini yang kutempuh
Bilakah ajal kan menjelang
jemput rindu-rindu syahid yang penuh kenikmatan
cintaku hanyalah untuk-Mu
tetapkan muslimku selalu
diamnya cerita
April 1, 2009 at 2:36 pm (1)
Jika aku harus diam, aku akan diam
Jika aku harus bersuara, aku akan bercerita
Aku diam agar yang tak sanggup berbicara, berbicara
Aku bersuara agar yang diam, tak sanggup lagi berdiam
Masa berdiam dan bercerita telah menempati tempatnya
walau prasangka bilang aku bersuara dalam diam
dan aku diam dalam bercerita
semua untuk diam yang diam dan suara yang bercerita
agar tak ada yang terkhianati
tersakiti dengan diam dan cerita
biar semua pada tempatnya
dan suatu saat aku akan diam dan bercerita kembali
Me versus Me
March 20, 2009 at 10:38 am (1)
Hehehhe.. sebenarnya mau ngasih tahu pengalaman ane tadi malem. Seharian my body’s not delicious. Pikiran bercabang2, ke tanah ke udara ke kanan ke kiri, ke segala arah. Maklum ini minggu ketiga ane menjadi wanita karir (kwkwkkwkwkwk), baru menikmati kesibukan pekerjaan di kantor. So, ladies n gentlemen, alhasil ane pulang cepet (yaa biz magrib-lah) meninggalkan segerombolan orang yang masih tersibukkan dengan kegiatan kantornya. Apa boleh buat, ane memberanikan diri untuk menempuh perjalanan dari daerah ITB ke daerah ITT (hehe…) sendirian, dengan kecepatan yang standar dan gaya mengendarai motor yang standar pula.
Hmmm.. pikiran tersibukkan dengan perlengkapan rumah tangga yang mulai menyusut, dan tiba2 rencana ke Griya segera ane susun, dan tancap gas ke sana. Fit X yang sudah hampir seminggu tidak tersentuh lap dan air pun ane parkirkan di salah satu slot yang kosong. Kemudian, dengan santai dan langkah gontai ane memasuki gerbang Griya dan tanpa memperdulikan Pak Satpam yang ada di deket gerbang. Segeralah ane berkejar dengan waktu, meraih kebutuhan yang akan ane boyong ke kosan (tentu setelah membayar). Tiba-tiba muncul perasaan aneh bin deg-deg-an. Yup, ane mendapati kunci motor ane sudah tidak ada di tempat yang seharusnya. Langsung saja ane ngacir ke tempat penitipan barang. KEcewa di sana, segera ane ngacir n ‘melabrak’ penjaga parkir. Setelah proses interogasi kepemilikan motor (hehe.. terjemahin sendiri
), ane dinyatakan berhak memboyong si Fit X. Alhamdulillah … Ternyata si kunci ane tinggal begitu saja di deket bagasi Fit X.Hehehehe… mungkin kondisi badan dah lemah, sampe gak konsen begitu…
Tapi Alhamdulillah, ane selamat sampai di kosan walo disambut oleh 2 ember pakaian yang harus dicuci
-The End-
Taubat Sambel
February 23, 2009 at 7:43 pm (Common)
Tentu sy dan temen2 sekalian pernah menikmati pedasnya sambel. Hmm.. walau hampir setiap orang mengakui pedasnya sambel, tapi toh hampir pula setiap orang gak jera untuk tetep menikmatinya. Ooo ini soal selera… Dan konsekuensinya adalah sakit perut dan cukup minum obat sakit perut untuk mengobatinya, dan next makan sambel lageee…. Tapi beda halnya dengan berbuat dosa. Sy rasa hampir setiap orang tahu kalau perbuatan semacam mencuri, berzina, memfitnah adalah perbuatan dosa dan tahu konsekuensinya apa. Ya ini adalah fitrah setiap manusia. Tapi mengapa dosa2 itu kadang2 terjadi berulang kali (looping), bahkan walaupun si pelaku dosa sudah kena dampak negatifnya, atau bahkan sungguh sangat merugikan orang lain. Apakah berbuat dosa juga persoalan ’selera’ ??? Perlu diketahui bahwa obat untuk dosa2 itu adalah taubatan nasuha kepada Allah SWT, bukannya taubat sambel. Karena dengan demikian semoga Allah SWT mengampuni segala dosa kita.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk ke dalam golongan penolong agama-Mu. Amin”
Ada apa dengan …
February 21, 2009 at 4:29 pm (:D)
ada apa dengan negeri ini, hampir setiap hari berita yang terdengar hanyalah pembunuhan, pemerkosaan, penipuan, pencurian, penyiksaan, penganiayaan, perkelahian, perebutan kekuasaan dengan cara-cara tidak terpuji, perzinahan,penjualan bayi dan wanita, aborsi dan tindakan kejahatan yang lainnya.
ada apa dengan negeri ini dimana hampir setiap hari ucapan-ucapan dan raut wajah sedih yang mengisyaratkan kekecewaan selalu kulihat hampir dimanapun aku menelusuri jalan di negeri ini maupun yang aku saksikan dari pemberitaan di televisi.
ada apa dengan negeri ini dimana setiap perilaku hanya mengharap pujian manusia yang sebenarnya tiada dayanya, mengharapkan kesenangan dari makam2 keramat, berdesakan sampai nyawa tercabut hanya demi Rp 15000 atau celupan batu yang dianggap sakti, saling menunjukkan kekuatan hitam-nya sampai harus membunuh saudaranya, memperebutkan harta warisan bahkan di depan sang pewaris yang hanya menunggu waktu sampai benar2 nyawa tercabut.
ada apa dengan negeri ini, ketika atas nama askeskin kaum miskin sangat berharap pengobatannya di RS menjadi lebih mudah, namun nyatanya sampai berminggu2 bahkan berbulan2 yang ada hanyalah sakit yang semakin menjadi-jadi karena harus menunggu giliran pengobatan.
ada apa dengan negeri ini, ketika ada yang sedang memperebutkan kursi yang bisa mendatangkan berbagai nikmat duniawi dengan menipu rakyat kecil, yang terdengar adalah budi baik kepada rakyat saat kampanye, kemudian saat berhasil menipu rakyat yang dilakukan adalah korupsi, bahkan atas nama kegiatan agama, dan rakyat malah semakin menelan ludah pahit, dan kemudian kembali lagi memperlihatkan budi baiknya saat masa duduk di kursi surga duniawi hampir habis agar dapat duduk di kursi itu lagi.
yang bisa dilakukan rakyat adalah menelan ludah pahit, menahan kekecewaan sampai2 tidak tahu lagi harus berkata apa selain “ya sudahlah, ikhlaskan saja”, menerima uang suap untuk mendukung si seseorang/sekelompok orang yang mau duduk di kursi surga duniawi, namun pada akhirnya mereka harus menempati tempat ‘mewah’ yang sudah disediakan oleh si seseorang/sekelompok orang tadi (baca : pinggiran kali, bawah jembatan, pinggir rel kereta api, jalanan dll).
ada apa ini, dimana orang kaya, orang besar semakin menindas orang miskin dan orang kecil, ada apa dengan negeri ini ketika orang-orang hendak berloyalitas dengannya malah yang ada adalah disiksa dengan dalih ospek atau pembinaan.
ini juga pernah terjadi, ini juga pernah dirasakan, namun ini juga pernah dibasmi habis sampai ke akar-akarnya.
apakah ini yang diperoleh oleh pemujanya di mana ia bertempat tinggal.
Dulu ini pernah terjadi, dimana rakyat kaya semakin kaya, rakyat miskin semakin miskin dan tertindas. anak-anak perempuan dibunuh, para wanita hanya dijadikan sebagai hiburan saja, seorang ibu harus mencocokkan wajah anaknya dengan beberapa pria, dan pria mana yang memiliki wajah yang lebih mirip dengan si anak-lah yang menjadi ayahnya. pencurian dimana-mana, pelecehan HAM terjadi, dll.
namun, ada juga masa dimana semua kejahatan itu tidak terjadi. Ya, masa dimana ketika adzan berkumandang, orang2 segera meninggalkan pekerjaannnya untuk menunaikan sholat 5 waktu, masa dimana ketika pasar ditinggal tidak ada satu pun yang kehilangan/kecurian, masa tidak ada lagi orang yang dizakati karena semua sudah makmur, masa dimana wanita dan pria mendapatkan haknya, masa dimana HAM tidak lagi dilecehkan, masa dimana dzikrullah selalu terdengar dalam setiap perkataan, masa di mana wanita-wanita menjaga auratnya, masa dimana tidak ada perzinahan, tidak ada mabuk2an. yang ada hanyalah kebaikan.
ingin aku kembali ke masa itu, itulah sebuah kemenangan. kemenangan Rasulullah SAW dan para sahabat atas orang-orang kafir dan berhala-berhalanya (taghut).
Itulah masa pemerintahan dimana ulil amri-nya benar2 melaksanakan kewajibannya dan memenuhi hak rakyatnya dengan adil. itulah pemerintahan yang seharusnya mendapatkan kepercayaan dan loyalitas rakyatnya. Bukan pemerintahan yang hanya menjadikan kebaikannya sebagai alat untuk menipu rakyat, untuk memberikan kebahagiaan semu pada rakyatnya, dan hanya untuk memuaskan nafsu duniawinya akan harta, tahta, dan wanita.
Siapakah pemerintahan itu, Apakah yang dilakukan pemerintahan itu, apakah landasannya, kepada siapakah loyalitasnya, apakah sistemnya, apakah undang2nya , sampai2 yang ada hanyalah kebaikan. keburukan sukar ditemukan. Subhanallah.. aku ingin kembali ke masa itu … Duhai Rabb, kabulkanlah pintaku. Amin…
SEMINAR KEAJAIBAN OTAK DALAM AL QUR’AN
February 14, 2009 at 8:14 pm (Common)
ayo ikuti seminar “Keajaiban Otak dlm Al Qur’an” dari UNPAD, tgl 9 Mar 09, 8 pg-6sore+makan siang jl Banda PT.POS.Fee 30rb ampe besok 15 Feb 09, setelahnya jadi 50rb.